Kamis, 16 Mei 2013

Dimensi

Titik, garis, persegi, persegi panjang, kubus, balok, kerucut, tabung. Itu semua dimensi. Jangan lupa satu dimensi lagi. Waktu. Ya, waktu. Dimensi mencakup ruang dan waktu. Seandainya lorong waktu bisa benar-benar terwujud untuk merealisasikan teori dimensi tersebut, apa mustahil? Tidak ada yang mustahil sepertinya untuk diwujudkan selagi tidak  melawan kodrat sebagai manusia.

Lantas apa? Saya butuh dimensi. Iya, dimensi. Yang katanya punya ruang dan waktu itu! Saya butuh itu. Dimensi. Konsepsi ruang dan waktu untuk bertemu. Namun, komponen dimensi itu tidak pernah match buat saya. Terasa saling meniadakan satu sama lainnya. Atau saya yang selalu merasa begitu? Jelas jelas, ruang dan waktu itu ada, mudah mencarinya kalau memang mau dicari dan ditemukan. Sayangnya, saya tidak cukup gigih untuk menemukan dimensi itu.

Saya hanya butuh dimensi . Ya, saya butuh ruang dan waktu untuk bertemu kamu. Saya dan kamu.

Didedikasikan untuk seorang teman yang selalu melihat banyangannya didepan cermin.

Selasa, 23 April 2013

Why not?

Fisika, satu bidang yang akan berpotensi besar untuk saya tekuni kedepannya bahkan akan menjadi bidang dimana saya akan berkarier di masa depan. Amin, semoga itu yang terbaik.
Memilih dan menentukan Fisika banyak melalui perdebatan dengan orang tua saya. Bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan mengambil jurusan MIPA dan itu ilmu murni! Saya tidak pernah berpikir untuk itu. Tapi, nyatanya toh saya sekarang sudah menentukan hal itu. Fisika murni. Untuk masa depan saya.
Kebanyakan teman-teman saya, malas untuk mengambil ilmu murni karena memusingkan dan membosankan. Saya akui, memang akan memusingkan dan membosankan. Tapi, itu pilihan saya yaa saya sudah tau segala resikonya.
Saya ini seorang sains. Diantara sosial, seni, dan sains. Sains merupakan bidang yang dimana saya paling berbakat. Sedangkan sosial, saya orangnya agak malas untuk menghafal dan sosial lumayan erat kaitannya dengan hafalan. Sama saja dgn biologi, saya juga agak malas untuk menghafal. Sedangkan seni, rasa-rasanya seni saya sangat amburadul. Gambur pun hancur, melukis? apalagi. Menari? Jangan ditanya-_- Dari berbagai bidang seni, yang saya bisa hanya membuat grafitti tulisan itupun masih awam sekali. Ya, begini lah seorang sains.

Banyak orang berpikir bahwa seorang sains itu kaku, serius, canggung, individualis dan sebagainya. Kelihatannya memang begitu. Kan baru kelihatannya. Gak selamanya dan gak semuanya orang sains seperti itu. Saya memang orang yang agak kaku dan serius, tapi saya juga punya sense of humor kok (pada dasarnya semua manusia punya) Gak kaku kaku amatlah atau serius serius amatlah-- saat serius ya memang harus serius, kalaupun bercanda juga saya pasti bisa. Pasti bisa. Intinya tergantung sikon aja.

Poin 1: Orang Sains bukan orang yg kaku dan serius. Tapi, orang sains dapat memposisikan diri sesuai sikon.

Terus, kalau dibilang orang sains itu individualis. Oh maaf, gak semuanya. Saya dan beberapa teman sains saya juga aktif di berbagai organisasi. Apa itu masih bisa dikatakan individualis? jujur saja, organisasi merupakan salah satu hal dari berbagai hal yang menjadi bagian hidup saya. Dari SD bahkan saya sudah aktif di organisasi dan sampai SMA sekarang ini, saya pun masih aktif di organisasi. Bagi saya, organisasi itu media bergaul dengan teman yang paling asik dan juga bermanfaat. Dari semua organisasi yang sudah saya geluti, organisasi yang paling berkesan dan banyak memberikan saya pelajaran adalah OSIS SMA. Di OSIS SMA ini saya benar-benar dapat pengatahuan yang lebih. Kebanyakan dari kami, punya sudut pandang yang sama bahwa "belajar" itu tidak harus duduk di kelas, memperhatikan guru. Belajar juga bisa di luar kelas. Dispen, rapat sama guru, kasih proposal ke sponsor, bikin konsep acara, design banner, dsbnya. Semua pelajaran itu gak bakal didapatkan di dalam kelas. Itu hanya didapatkan di luar kelas, di organisasi. Seumur hidup saya, saya belum pernah diajarkan didalam kelas membuat banner yang ukuran sangat besar. Dan di organisasi, hal itu kami dapatkan. Nih lihat, banner Perpisahan kami:
Terlihat sangat megah bukan? Itu hasil kerja keras kami beberapa bulan dan itu hanya didapatkan di organisasi (lagi-lagi). Saya pribadi, punya perspektif kalau kita tidak cukup pandai di dalam kelas, pintar dalam pelajaran tapi kita juga harus punya kepekaan dalam bidang sosial, salah satu caranya dgn ikut organisasi. Kalau kita ikut organisasi, pengetahuan kita akan bertambah. Kita akan tau bagaimana karakter tiap orang dalam organisasi itu, bagaimana sikap kita seharusnya dalam rapat, bagaimana saling menghargai ide dan pendapat orang lain. Bagi saya, organisasi menambah atmosfer yang lebih menarik dalam hidup saya. Saya berharap, semoga langkah saya bisa terus mudah dan saya selalu bisa berkontribusi melalui organisasi.Walau dalam teori sosial saya sangat kurang, tapi real application dalam organisasi bagi saya sudah cukup.

Poin 2 : Orang sains tidak individualis malah fleksibel. Tetap bisa aktif di Organisasi.

Lantas, kalau dalam bidang seni? Saya sendiri mengakui artistic intelligence saya doremi. Tapi, saya cukup berbangga bisa tetap menjadi apresiator seni. Saya suka musik, suka lukisan dan saya mengapresiasi itu. Bagi saya, tidak bisa menjadi pelaku seni, cukup menjadi apresiator itu sudah baik.

Poin 3 : Orang sains tetap bisa menjadi apresiator seni walaupun bukan pelaku seni.

Satu hal yang saya pegang: saya seorang sains, tetap harus berwawasan sosial. Tau apa yang sedang ramai dibicarakan publik, setidaknya tau.

Salah satu faktor yang membuat saya menjadi seorang sains sekaligus orang yang ingin tau apa yang sedang terjadi di publik adalah faktor genetis. Ayah saya seorang sains. Beliau lulusan Teknik Elektro.Tidak heran, bakat sains menurun banyak kepada saya. Dan memang rasa-rasanya sebagian besar sifat dan pemikiran saya warisan ayah saya, dominasi ayah saya. Hal yang selalu saya kagumi dari ayah saya adalah walaupun ia seorang sains, tapi wawasannya cukup luas. Selalu bisa berperspektif terhadap berita yang uptodate di pubik, bisa berasumsi mengenai kebijakan pemerintah. Bisa dibilang, wawasan politiknya lumayan juga. Saya juga terkadang sharing dengan ayah saya masalah-masalah seperti itu dan selalu dapat pengetahuan dan perspektif baru. Dan yang terpenting, ayah saya itu sosok yang idealis. Itu yang saya kagumi.

Sedangkan ibu saya, beliau seorang sosial. Beliau mengajar sosial. Pengetahuannya juga lumayan.Yang saya kagumi adalah walaupun beliau orang sosial namun seni nya bisa diacungi jempol. Sangat kreatif. Beliau bisa menjahit, menyulam, membuat prakarya,dsbnya. Sayangnya bakat seni itu sepertinya tidak menurun kepada anak perempuan satu-satunya ini-_- Beliau juga seorang pemerhati. Bagi saya, ayah dan ibu saya adalah kombinasi yang sangat pas, sangat serasi. 

Kesimpulannya, kita bisa tetap memilih kemana kita akan melangkah. Menjadi seorang sains dan aktivis, why not? Kenapa tidak?
Menjadi seorang sains yang konsen dalam human development, why not? Kenapa tidak?
Menjadi seorang sosial yang berbakat seni, why not? Kenapa tidak?
Menjadi seorang sosial yang bisa sains, why not? Kenapa tidak?
Dan pada akhirnya, menjadi orang yang bermanfaat, why not? Kenapa tidak?

Hanya butuh satu : fokus.


Senin, 18 Maret 2013

Setakut ini

Sebelumnya, saya belum pernah setakut ini dalam konteks hal ini. Entah mengapa, mendengarnya saja membuat saya berubah jadi takut, khawatir lebih tepatnya. Waktu saya yang tersisa hanya 27 hari lagi untuk persiapan UN!! 27 hari lagi bukan waktu yang lama.

Rasa-rasanya baru kemarin saya menulis di kalender, 63 hari lagi menuju UN dan hari ini waktu yang tersisa tinggal 27 hari lagi. 36 hari sudah saya lewati penuh dengan kesia-siaan. 36 hari itu saya berubah menjadi orang yang sangat malas. Berleha-leha, menganggap semuanya gampang. Dan hari ini, saat waktu saya tersisa 27 hari lagi saya baru menyadari bahwa saya dalam kesia-siaan. Miris. 

Tadi, mungkin ada sekitar 30 menit, anak-anak kelas IPA dari IPA 1-6, dikumpulkan di Audit. 30 menit itu diisi dengan pengarahan oleh Pak Didi dan Bu Nani. Beliau bilang, UN bukan 20 paket lagi, melainkan 30 paket! Dan semua pengawasannya akan diperketat. Sulit, untuk sekolah "intervensi" dalam hal ini. Beliau bilang, "Kerjakan sama diri kalian sendiri, percaya sama diri kalian sendiri." |"Untuk hasilnya yaa akan apa adanya, sesuai dengan hasil kalian" | "Kalaupun gak bisa, kasarnya kalian hitung kancing". 

Masih banyak kata-kata beliau yang membuat saya membayangkan betapa "wow" nya UN tahun ini. Dulu, saat orang-orang ribut takut karena UN 20 paket, saya masih santai saja. Dalam hati, saya bilang, "dibayangin sih susahnya dan 20 paketnya itu"Kali ini, benar saya baru merasakan betapa mengkhawatirkannya UN tahun ini. Betapa menakutkannya 30 paket. Betapa ketatnya pengawasan dan segala hal yang mengkhawatirkan lainnya. Jujur, saya takut.

Takut, khawatir, atau belum siap? Ketakutan dan kekhawatiran muncul karena kurangnya kesiapan. Masih ada waktu 27 hari lagi untuk mengejar ketertinggalan! 

Sedikit mengkritisi, mungkin banyak yang gak suka dengan kebijakan pemerintah yang seperti ini atau ada yang bilang gak paham dengan sistem pendidikan sekarang. Atau juga ada yang bilang, pemerintah gak percaya terhadap para pelajarnya, sehingga dibuat sistem yang menurut kami, rumit.

Saya setuju kalau sistem pendidikan Indonesia sekarang ini memang carut marut, sama saja dengan berbagai bidang lainnya yang penuh masalah dan belum terselesaikan. Tapi, saya gak setuju kalau sistem 30 paket ini dibuat karena pemerintah tidak percaya terhadap pelajarnya. Justru, dibuat 30 paket ini untuk menguji seberapa mampukah para pelajar Indonesia. 

Kembali lagi kepada pelajar Indonesia sendiri untuk belajar dan belajar dan memercayai diri sendiri. Saya rasa 30 paket juga berat untuk kami. Atau sebaiknya UN ditiadakan? Sepertinya begitu. Daripada UN penuh intrik dan sudah jadi rahasia umum semua intrik tersebut. Masih ada cara lain, untuk mengukur kapabilitas pelajar Indonesia disamping UN.

Dulu, saat saya SMP, UN tidak semenakutkan ini. Tapi, SMA ini, jujur hari ini saya merasakan UN menakutkan, mungkin karena kesiapan saya maish jauh sekali dari 100%.

Saya tau, bukan menakutkan, tapi kurang persiapan. 27 hari mengejar ketertinggalan! Semoga dimudahkan, amin. Bismillaaaah.....

Hello You, 18th!

Hey bloggeriest :)

Sabtu, 16 Maret 2013. Umur gue 18 tahuuuuun, yeay 18! Alhamdulillah masih dikasih sampai 18 tahun kayak sekarang. Yah tua deh haha bukan tua tapi udah dewasa, amin semoga bisa begitu. 
Buat yang udah ngucapin, makasih banyak semuanyaaa :)

Sabtu kemaren tuh, abis NF, gue, Nita, Siti, Deppy, Husen, sama Arif ngobrol-ngobrol dulu di masjid depan NF. Apa aja diobrolin sampe masa depan juga. Ah, gak kerasa masa SMA udah mau berakhir aja. Bentar lagu kuliah dan kita bakal pisah. Sampai ketemu di puncak kesuksesan, kawan! ;) When we meet again, still showing your shine, guys :')

18 tahun, semoga bisa jadi berkah dan dilancarkan semuanya. UN, SNMPTN Undangan semuanya dilancarkan dan ditunjukkan kepada yang terbaik, amin ya Allah.

The last, thanks for my beloved fam and my besties {}


Rabu, 20 Februari 2013

Sepi

Terasa sepi, nyatanya ramai. Orang-orang tertawa, berbicara, musik mengalun keras, suara derap sepatu kesana kemari memperlihatkan kesibukan masing-masing. Saya duduk di pojok sana, menutup telinga dengan headset, bersandar pada dinding, dan mengeraskan volume musik yang saya dengar. Pura-pura mendengarkan, nyatanya saya tak tahu musik apa yang sedang saya dengarkan.

Pikiran saya terbang jauh, pergi entah kemana, belum kembali sampai saat itu. Rasanya saat itu, saya tidak mau banyak orang di dekat saya. Saya tak mau mereka berbincang apa yang tidak ingin saya dengar. Saya hanya mau sepi. Sendiri.

Saya ini begitu kontradiktif. Ya, saya akui. Saya menyukai organisasi, berbaur dengan orang banyak menyatukan visi mencapai tujuan, beropini. Tapi, terkadang saya tak ingin banyak orang di dekat saya dengan keadaan saya sedang tidak nyaman. Bilang saja, saya itu moody. Ya, memang. Sesuatu hal yang belum bisa saya ubah sampai sekarang. Moody.

Terkadang pemikiran idealis tak bisa berbaur dengan pergaulan sehari-hari dengan teman. Sulit untuk menggabungkannya. Bergaul ya bergaul, ngobrol hal yang menyenangkan bukan beropini. Saat beropini pasti akan berdebat, bukankah memang begitu? tapi, tetap saja itu gak "klop" di hati saya.

Yah, pada akhirnya saya memang terkadang bisa menjadi sangat introvert, seperti sekarang ini.Saya tau harus berlari kemana kalau sudah seperti ini. Berlari ke kamar, menyumpal telingan dengan headset, mengeraskan volume musik, dan berbaring. Lalu semua akan terasa lebih baik.

Senin, 18 Februari 2013

Teman Hidup (Memoir)

Hey bloggeriest :)

Hampir 18 tahun gue terlahirkan di dunia ini. Alhamdulillah sekali masih diberi waktu menuju 18 tahun untuk terus bernafas, merasakan indahnya dunia, dan bertemu dengan orang-orang hebat di hidup gue ini. 18 tahun, angka yang sudah cukup di bilang dewasa. Eh gak juga deng, 18 tahun itu malah masa transisi. Transisi dari labil menjadi tidak labil, dari suka ngegalau jadi ngurangin galau, dan transisi yang lainnya ;D Udah bisa dibilang dewasa belum ya kalo gitu? hehe-,-

Hampir 18 tahun hidup gue ini, hampir 12 tahun juga gue habiskan dan lewati di masa-masa sekolah. Dari TK, SD, SMP, SMA, dan sebentar lagi kuliah. Yeaaaaaaay \m/ Welcoming me UI ;DD

Okey, bahas dari TK dulu. Memori untuk TK gak begitu inget, ya karena emang pas TK baru 6 tahun jadi wajar aja kalo lupa lupa inget. Namanya TKIT Ulil Albab, lokasinya di Perum Regensi. Masuk Tk tahun 2000. Gak banyak teman yang gue inget di TK ini. Cuma Lani, Agi, Husni. Udah-_- Belakangan gue tau kalo temen sekelas gue namaya Kartika dulu juga satu TK sama gue hihi dunia emang sempit(lagi). Untuk mengingat memori tentang TK, foto berikut bisa menyegarkan ingatan gue. Hayoooo, where am I? Find me :D



Berlanjut ke masa SD. 6 tahun gue sekolah di SDIT Nurul Fajri. Bagi gue, masa SD itu masa yang paling unik, lucu, dan asik juga. Masa-masa yang gak terlupakan. Di SDIT Nurul Fajri itu gue dan teman-teman adalah angkatan ke-2. Jumlah siswa satu angkatan cuma sekitar 44 orang.Tapi, bisa dibilang pembentukan karakter gue dimulai di SD ini, disamping didalam keluarga. Di NF, gaya pembelajarannya asik. Guru-gurunya juga asik, udah kayak temen, gak ada kesenjangan. Selain itu juga, acara-acara SD juga keren-keren dan variatif kayak Mabit, Persami, Pesantren Ramadhan, dsbnya. Asik-asik pokoknya. Suasana kekeluargaannya juga erat. Gak heran, sampai sekarang kita masih suka reuni. Walaupun, pas reuni pasti semuanya jadi beda, temen-temennya jadi beda sifatnya, penampilannya. Dan kalo inget, cerita-cerita masa SD yang masih cupu, itu lucu-lucu banget .Hem, coba review dulu kelas berapa aja di SD---> 1A, 2A, 3B, 4B, 5A, 6B. Yeay, masih inget :D

Di Nurul Fajri ini, gue pasti punya sahabat. Namanya Prima dan Nadia. Sampai sekarang kita masih bersahabat walaupun gak berdekatan lagi. Dulu, kita tuh namain kita bertiga, Tiga Serangkai.


Nama lengkapnya Azizah Prima Ghanie. Biasa dipanggil Prima. Lahir 13 Maret 1996. Beda 1 tahun kurang 3 hari sama gue. Hm, opini tentang Prima: Dulu, pas SD, diantara gue dan Nadia, Prima itu ibaratnya orang penengah dan mungkin selalu dalam posisi serba salah. Saat gue dan Nadia berantem, pasti prima yang bingung mau berpihak ke siapa hehehe. Dia juga mandiri, hampir 6 tahun di Bogor dan berjauhan dgn orangtuanya, dia bisa jaga diri dan baik-baik aja. Selain itu juga, orangnya baik, care, cheerful, rame, seru lah pokoknya. Prima juga punya potensi yang besar dalam seni ;) dan yang terpenting, she still be my bestiest until now and forever. Thankyoooouuuuu prim ;)

Namanya Nadia Kurnia Pangastuti. Biasa dipanggil Nadia atau Nana. Nah ini dia, temen berantem masa SD hahaha, kalo Nana matanya yang sinis kalo gue, mukanya yang jutek. Jadi kita punya ciri khas masing-masing kalo lagi marahan wkwkw, tapi itu dulu loh ya. Nana berpotensi besar di bidang Sains, tapi unpredictable, pasa SMA dia malah ambil jurusan IPS karena emang dia mau menjadi seorang Psikolog, amin. Good decision, na :) Nana orangnya baik, pendengar yang baik, care, pokoknya baik ;D Setelah berpisah dari SMP sampai SMA, semoga kita dipertumukan di kampus impian yang sama, UI. Welcoming us, UI...........! Thankyouuuuu naaaaaaa:)

Ini sepenggal cerita tentang masa SD. Cerita ini belum bisa mewakili seluruh kenangan masa SD yang sangat-sangat banyak dan lucu. Tapi, semoga postingan ini bisa mewakili rasa terimah kasih untuk Prima dan Nana :)

Tunggu kisah selanjutnya.........Masa SMP ;)

Sabtu, 09 Februari 2013

Hanya Doa

Nama saya Rizka. Umur saya menuju 18 tahun. Ah, saya baru sadar ternyata sudah mau 18 tahun saja. Rasa-rasanya baru kemarin saya berumur 16 tahun. Baru kemarin saya lulus SMP, baru kemarin saya ikut UN, baru kemarin saya ikut MOS SMA, baru kemarin saya sibuk sibuknya di OSIS. Dan sekarang saya sudah sibuk bimbel, review-riview soal UN, ataupun konsulatsi dengan guru-guru, mondar mandir ke BK karena harus mengurus dan berkonsultasi mengenai PTN, galau menentukan PTN dan prodi, ikut Try Out dan 65 hari lagi UN menanti, 109 hari lagi pengumuman SNMPTN 2013.

Di bumi ini, saya hanya lah sebuah noktah kecil. Coba berjalan lebih jauh, keluar dari hunian saya, saya mungkin akan tersesat. Semua yang saya sudah lakukan dan saya punya tak berarti apa-apa.

Alhamdulillah, saya baru saja melalui masa-masa tergalau yang pertama. Insya Allah sudah diberi keyakinan untuk menentukan prodi dan PTN. Saya selalu berharap semoga PTN dan prodi yang saya pilih ini akan membawa saya pada PTN dan prodi impian saya. Membawa saya kepada kampus impian saya sejak lama. Amin.

109 hari lagi menunggu. Bukankah sangat lama? Apa lagi yang harus saya lakukan untuk membuat saya lulus di SNMPTN Undangan 2013 ini? Belajar mati-matian? sudah bukan waktunya untuk SNMPTN Undangan, karena semua nilai sudah diinput dan akan diseleksi. Saya sudah cukup puas dengan hasil belajar saya selama hampir 3 tahun ini, dan inilah saatnya saya menanti kerja keras saya selama  hampir 3 tahun ini terbalaskan dengan hasil yang terbaik dan memuaskan.

Lantas apa yang harus saya lakukan untuk 109 hari lagi? Tetap belajar mati-matian? Iya, saya akan belajar untuk UN dan SBMPTN. Namun sekali lagi, belajar mati-matian untuk sekarang ini, tidak akan merubah nilai yang sudah saya input SNMPTN Undangan. 

109 hari lagi menanti kebahagiaan dan kepastian. Saya rasa hanya satu kuncinya untuk membuat saya bisa lulus SNMPTN 2013 dan menjadi mahasiswa di kampus impian. Kuncinya adalah hanya doa. Klise? Mungkin untuk sebagian orang itu klise, tapi saya tau kekuataan doa itu ada. Apa lagi yang bisa merubah nasib saya? Hanya saya sendiri yaitu dengan berdoa dan Allah akan mendengar doa saya. Memohon itu harus terlebih lagi dalam situasi seperti ini. Hanya doa yang menguatkan saya, meyakinkan saya, dan membuat saya tentram. Semoga terkabulkan.

109 hari lagi menanti ditengah derasnya doa.