AKU INGIN
Oleh Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
----
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku
Sabtu, 08 Juni 2013
Minggu, 02 Juni 2013
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. -Edensor
Senin, 27 Mei 2013. Mimpi saya terwujud. Doa yang selama ini saya panjatkan saya munajatkan, diijabah oleh Allah SWT. Bukan hanya doa saya, doa saya tidak ada apa-apanya dibandingkan yang satu ini : doa ibu dan ayah saya. Dalam hening, mereka yang terbangun untuk terus mendoakan saya, mendoakan yang terbaik untuk saya. Bukan yang saya mau, tapi yang terbaik yang Allah berikan. Saya selalu ingat perkataan itu. Tidak akan pernah lupa.
Seharusnya saya yang lebih giat untuk beribadah dan berdoa, di tengah malam pun saya sulit sekali untuk bangun. Tapi, ibu saya selalu menyempatkan untuk bangun dan berdoa. Memohon dan meminta yang terbaik dan tak jarang ia mengantuk di pagi harinya. Saya, tanpa orang tua saya tidak ada apa-apa. Ini semua berkat doa mereka :')
Dari dulu saya selalu bermimpi untuk menjadi salah satu dari bagian Universitas Indonesia, kampus impian saya sejak lama. Sangat ingin menjadi mahasiswi dari salah satu kampus terbaik di Indonesia ini. Pada hari Senin, 27 Mei 2013. Semua mimpi saya ada di depan mata! UI sudah didepan mata saya bukan sekadar dalam angan-angan! Unbelievable!
Ada beberapa orang yang menganggap mimpi saya ini ketinggian dan menganggapnya sebelah mata. Tapi, saya percaya bahwa saya bisa. Saya bisa mewujudkan mimpi itu! Dan Alhamdulillah sekali karunia Allah SWT sangat besar untuk saya, saya ditempatkan di tempat yang terbaik sekaligus yang saya mau. Dan doa ibu dan ayah saya untuk yang terbaik bagi saya sudah dijawab dan tempatnya ada di Universitas Indonesia. Kampus impian, kampus perjuangan.
Allah itu Maha Adil.
Sebelum mendapatkan ini, saya tidak pernha lupa, saya pernah gagal. Bukan kegagalan juga, lebih tepatnya rezeki saya memang bukan disitu. Saya ikut USM STIS dan sudah ikut 2 kali Try out, hasilnya pun memuaskan. Jika diperkirakan, setidaknya saya bisa lolos untuk USM yang sebenarnya. Tapi, pada saat pengumuman tanggal 24 Mei 2013, nomor ujian saya 310758 tidak ada. Yang ada 310768. Menyesakkan sekali. Sedih? pastinya. Tidak tega melihat ekspresi ayah dan ibu saya. Saya mengecewakan mereka. Tapi, mereka tetap bilang masih ada harapan di SNMPTN. Alhamdulillah, memang rezeki saya di SNMPTN. Allah emang adil, saat kita tidak mendapatkan yang satu, Dia mengirimkan yang lain yang terbaik untuk kita. Itu yang saya percaya. Allah memberikan jalan untuk hambaNya dengan cara yang berbeda-beda :") The greatest thanks to Allah SWT :")
Tidak lupa juga, tahun 2013 ini lagi-lagi saya bisa meng-circle sekaligus 2 mimpi saya di Peta hidup saya yang saya tempelkan di depan meja belajar.
-Lulus SMA
-Kuliah di UI
Terimakasih yaa Allah.
Tapi, ini baru mulai! Baru awal! Perjuangan saya masih panjang. Masih banyak hal yang harus saya perjuangkan, saya raih. Semoga apa yang saya tulis di peta hidup saya pada akhirnya dapat ter-cicle semuanya dan terpetakan sesuai harapan.Amin. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.
Albert Einstein pernah bilang :
Kecerdasan/IQ hanya berperan 20 % dalam kesuksesan. Sisanyanya adalah kerja keras.
Tapi, maaf tuan Albert, saya rubah:
Kecerdasan/IQ hanya berperan 20 % dalam kesuksesan. 30 % Usaha dan kerja keras, dan 50 % nya adalah doa, Kuasa Tuhan.
Yang terakhir, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Allah SWT. Im nothing without You. Untuk Ayah dan Ibu saya, yang tidak henti-hentiya mendoakan yang terbaik untuk anakmu ini. Untuk Abang dan Adik saya, Yazid. Untuk Bibi yang selalu menyiapkan segala keperluan. Untuk teman-teman saya yang hebat : Mutiara, Tiara, Dinar, Amel, Winda, Prima, Nadia, Puspa, Siti, Nita, Putri, Meila dan yang lainnya yang sudah saling mendoakan dan berjuang bersama-sama. Sampai bertemu di gerbang kesuksesan kawaaaaan :") Untuk guru-guru SMAN 1 Cikarang Utara, terima kasih untuk ilmunya. Untuk kakak-kakak pengajar NF, great pedagogi NF ! :)
Untuk OSIS SMAN 1 Cikarang Utara. Gak pernah lupa hal-hal yang indah, suka duka. Saya dapat banyak pengalaman dari sana! Untuk masa SMA. Memang benar, masa SMA itu paling indah dari masa-masa sekolah yang lain hehe
Bye. Ciayoooo~
Kamis, 16 Mei 2013
Titik, garis, persegi, persegi panjang, kubus, balok, kerucut, tabung. Itu semua dimensi. Jangan lupa satu dimensi lagi. Waktu. Ya, waktu. Dimensi mencakup ruang dan waktu. Seandainya lorong waktu bisa benar-benar terwujud untuk merealisasikan teori dimensi tersebut, apa mustahil? Tidak ada yang mustahil sepertinya untuk diwujudkan selagi tidak melawan kodrat sebagai manusia.
Lantas apa? Saya butuh dimensi. Iya, dimensi. Yang katanya punya ruang dan waktu itu! Saya butuh itu. Dimensi. Konsepsi ruang dan waktu untuk bertemu. Namun, komponen dimensi itu tidak pernah match buat saya. Terasa saling meniadakan satu sama lainnya. Atau saya yang selalu merasa begitu? Jelas jelas, ruang dan waktu itu ada, mudah mencarinya kalau memang mau dicari dan ditemukan. Sayangnya, saya tidak cukup gigih untuk menemukan dimensi itu.
Saya hanya butuh dimensi . Ya, saya butuh ruang dan waktu untuk bertemu kamu. Saya dan kamu.
Didedikasikan untuk seorang teman yang selalu melihat banyangannya didepan cermin.
Selasa, 23 April 2013
Fisika, satu bidang yang akan berpotensi besar untuk saya tekuni kedepannya bahkan akan menjadi bidang dimana saya akan berkarier di masa depan. Amin, semoga itu yang terbaik.
Memilih dan menentukan Fisika banyak melalui perdebatan dengan orang tua saya. Bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan mengambil jurusan MIPA dan itu ilmu murni! Saya tidak pernah berpikir untuk itu. Tapi, nyatanya toh saya sekarang sudah menentukan hal itu. Fisika murni. Untuk masa depan saya.
Kebanyakan teman-teman saya, malas untuk mengambil ilmu murni karena memusingkan dan membosankan. Saya akui, memang akan memusingkan dan membosankan. Tapi, itu pilihan saya yaa saya sudah tau segala resikonya.
Saya ini seorang sains. Diantara sosial, seni, dan sains. Sains merupakan bidang yang dimana saya paling berbakat. Sedangkan sosial, saya orangnya agak malas untuk menghafal dan sosial lumayan erat kaitannya dengan hafalan. Sama saja dgn biologi, saya juga agak malas untuk menghafal. Sedangkan seni, rasa-rasanya seni saya sangat amburadul. Gambur pun hancur, melukis? apalagi. Menari? Jangan ditanya-_- Dari berbagai bidang seni, yang saya bisa hanya membuat grafitti tulisan itupun masih awam sekali. Ya, begini lah seorang sains.
Banyak orang berpikir bahwa seorang sains itu kaku, serius, canggung, individualis dan sebagainya. Kelihatannya memang begitu. Kan baru kelihatannya. Gak selamanya dan gak semuanya orang sains seperti itu. Saya memang orang yang agak kaku dan serius, tapi saya juga punya sense of humor kok (pada dasarnya semua manusia punya) Gak kaku kaku amatlah atau serius serius amatlah-- saat serius ya memang harus serius, kalaupun bercanda juga saya pasti bisa. Pasti bisa. Intinya tergantung sikon aja.
Poin 1: Orang Sains bukan orang yg kaku dan serius. Tapi, orang sains dapat memposisikan diri sesuai sikon.
Terus, kalau dibilang orang sains itu individualis. Oh maaf, gak semuanya. Saya dan beberapa teman sains saya juga aktif di berbagai organisasi. Apa itu masih bisa dikatakan individualis? jujur saja, organisasi merupakan salah satu hal dari berbagai hal yang menjadi bagian hidup saya. Dari SD bahkan saya sudah aktif di organisasi dan sampai SMA sekarang ini, saya pun masih aktif di organisasi. Bagi saya, organisasi itu media bergaul dengan teman yang paling asik dan juga bermanfaat. Dari semua organisasi yang sudah saya geluti, organisasi yang paling berkesan dan banyak memberikan saya pelajaran adalah OSIS SMA. Di OSIS SMA ini saya benar-benar dapat pengatahuan yang lebih. Kebanyakan dari kami, punya sudut pandang yang sama bahwa "belajar" itu tidak harus duduk di kelas, memperhatikan guru. Belajar juga bisa di luar kelas. Dispen, rapat sama guru, kasih proposal ke sponsor, bikin konsep acara, design banner, dsbnya. Semua pelajaran itu gak bakal didapatkan di dalam kelas. Itu hanya didapatkan di luar kelas, di organisasi. Seumur hidup saya, saya belum pernah diajarkan didalam kelas membuat banner yang ukuran sangat besar. Dan di organisasi, hal itu kami dapatkan. Nih lihat, banner Perpisahan kami:
Terlihat sangat megah bukan? Itu hasil kerja keras kami beberapa bulan dan itu hanya didapatkan di organisasi (lagi-lagi). Saya pribadi, punya perspektif kalau kita tidak cukup pandai di dalam kelas, pintar dalam pelajaran tapi kita juga harus punya kepekaan dalam bidang sosial, salah satu caranya dgn ikut organisasi. Kalau kita ikut organisasi, pengetahuan kita akan bertambah. Kita akan tau bagaimana karakter tiap orang dalam organisasi itu, bagaimana sikap kita seharusnya dalam rapat, bagaimana saling menghargai ide dan pendapat orang lain. Bagi saya, organisasi menambah atmosfer yang lebih menarik dalam hidup saya. Saya berharap, semoga langkah saya bisa terus mudah dan saya selalu bisa berkontribusi melalui organisasi.Walau dalam teori sosial saya sangat kurang, tapi real application dalam organisasi bagi saya sudah cukup.
Poin 2 : Orang sains tidak individualis malah fleksibel. Tetap bisa aktif di Organisasi.
Lantas, kalau dalam bidang seni? Saya sendiri mengakui artistic intelligence saya doremi. Tapi, saya cukup berbangga bisa tetap menjadi apresiator seni. Saya suka musik, suka lukisan dan saya mengapresiasi itu. Bagi saya, tidak bisa menjadi pelaku seni, cukup menjadi apresiator itu sudah baik.
Poin 3 : Orang sains tetap bisa menjadi apresiator seni walaupun bukan pelaku seni.
Satu hal yang saya pegang: saya seorang sains, tetap harus berwawasan sosial. Tau apa yang sedang ramai dibicarakan publik, setidaknya tau.
Salah satu faktor yang membuat saya menjadi seorang sains sekaligus orang yang ingin tau apa yang sedang terjadi di publik adalah faktor genetis. Ayah saya seorang sains. Beliau lulusan Teknik Elektro.Tidak heran, bakat sains menurun banyak kepada saya. Dan memang rasa-rasanya sebagian besar sifat dan pemikiran saya warisan ayah saya, dominasi ayah saya. Hal yang selalu saya kagumi dari ayah saya adalah walaupun ia seorang sains, tapi wawasannya cukup luas. Selalu bisa berperspektif terhadap berita yang uptodate di pubik, bisa berasumsi mengenai kebijakan pemerintah. Bisa dibilang, wawasan politiknya lumayan juga. Saya juga terkadang sharing dengan ayah saya masalah-masalah seperti itu dan selalu dapat pengetahuan dan perspektif baru. Dan yang terpenting, ayah saya itu sosok yang idealis. Itu yang saya kagumi.
Sedangkan ibu saya, beliau seorang sosial. Beliau mengajar sosial. Pengetahuannya juga lumayan.Yang saya kagumi adalah walaupun beliau orang sosial namun seni nya bisa diacungi jempol. Sangat kreatif. Beliau bisa menjahit, menyulam, membuat prakarya,dsbnya. Sayangnya bakat seni itu sepertinya tidak menurun kepada anak perempuan satu-satunya ini-_- Beliau juga seorang pemerhati. Bagi saya, ayah dan ibu saya adalah kombinasi yang sangat pas, sangat serasi.
Kesimpulannya, kita bisa tetap memilih kemana kita akan melangkah. Menjadi seorang sains dan aktivis, why not? Kenapa tidak?
Menjadi seorang sains yang konsen dalam human development, why not? Kenapa tidak?
Menjadi seorang sosial yang berbakat seni, why not? Kenapa tidak?
Menjadi seorang sosial yang bisa sains, why not? Kenapa tidak?
Dan pada akhirnya, menjadi orang yang bermanfaat, why not? Kenapa tidak?
Hanya butuh satu : fokus.
Senin, 18 Maret 2013
Sebelumnya, saya belum pernah setakut ini dalam konteks hal ini. Entah mengapa, mendengarnya saja membuat saya berubah jadi takut, khawatir lebih tepatnya. Waktu saya yang tersisa hanya 27 hari lagi untuk persiapan UN!! 27 hari lagi bukan waktu yang lama.
Rasa-rasanya baru kemarin saya menulis di kalender, 63 hari lagi menuju UN dan hari ini waktu yang tersisa tinggal 27 hari lagi. 36 hari sudah saya lewati penuh dengan kesia-siaan. 36 hari itu saya berubah menjadi orang yang sangat malas. Berleha-leha, menganggap semuanya gampang. Dan hari ini, saat waktu saya tersisa 27 hari lagi saya baru menyadari bahwa saya dalam kesia-siaan. Miris.
Tadi, mungkin ada sekitar 30 menit, anak-anak kelas IPA dari IPA 1-6, dikumpulkan di Audit. 30 menit itu diisi dengan pengarahan oleh Pak Didi dan Bu Nani. Beliau bilang, UN bukan 20 paket lagi, melainkan 30 paket! Dan semua pengawasannya akan diperketat. Sulit, untuk sekolah "intervensi" dalam hal ini. Beliau bilang, "Kerjakan sama diri kalian sendiri, percaya sama diri kalian sendiri." |"Untuk hasilnya yaa akan apa adanya, sesuai dengan hasil kalian" | "Kalaupun gak bisa, kasarnya kalian hitung kancing".
Masih banyak kata-kata beliau yang membuat saya membayangkan betapa "wow" nya UN tahun ini. Dulu, saat orang-orang ribut takut karena UN 20 paket, saya masih santai saja. Dalam hati, saya bilang, "dibayangin sih susahnya dan 20 paketnya itu". Kali ini, benar saya baru merasakan betapa mengkhawatirkannya UN tahun ini. Betapa menakutkannya 30 paket. Betapa ketatnya pengawasan dan segala hal yang mengkhawatirkan lainnya. Jujur, saya takut.
Takut, khawatir, atau belum siap? Ketakutan dan kekhawatiran muncul karena kurangnya kesiapan. Masih ada waktu 27 hari lagi untuk mengejar ketertinggalan!
Sedikit mengkritisi, mungkin banyak yang gak suka dengan kebijakan pemerintah yang seperti ini atau ada yang bilang gak paham dengan sistem pendidikan sekarang. Atau juga ada yang bilang, pemerintah gak percaya terhadap para pelajarnya, sehingga dibuat sistem yang menurut kami, rumit.
Saya setuju kalau sistem pendidikan Indonesia sekarang ini memang carut marut, sama saja dengan berbagai bidang lainnya yang penuh masalah dan belum terselesaikan. Tapi, saya gak setuju kalau sistem 30 paket ini dibuat karena pemerintah tidak percaya terhadap pelajarnya. Justru, dibuat 30 paket ini untuk menguji seberapa mampukah para pelajar Indonesia.
Kembali lagi kepada pelajar Indonesia sendiri untuk belajar dan belajar dan memercayai diri sendiri. Saya rasa 30 paket juga berat untuk kami. Atau sebaiknya UN ditiadakan? Sepertinya begitu. Daripada UN penuh intrik dan sudah jadi rahasia umum semua intrik tersebut. Masih ada cara lain, untuk mengukur kapabilitas pelajar Indonesia disamping UN.
Dulu, saat saya SMP, UN tidak semenakutkan ini. Tapi, SMA ini, jujur hari ini saya merasakan UN menakutkan, mungkin karena kesiapan saya maish jauh sekali dari 100%.
Saya tau, bukan menakutkan, tapi kurang persiapan. 27 hari mengejar ketertinggalan! Semoga dimudahkan, amin. Bismillaaaah.....
Hey bloggeriest :)
Sabtu, 16 Maret 2013. Umur gue 18 tahuuuuun, yeay 18! Alhamdulillah masih dikasih sampai 18 tahun kayak sekarang. Yah tua deh haha bukan tua tapi udah dewasa, amin semoga bisa begitu.
Buat yang udah ngucapin, makasih banyak semuanyaaa :)
Sabtu kemaren tuh, abis NF, gue, Nita, Siti, Deppy, Husen, sama Arif ngobrol-ngobrol dulu di masjid depan NF. Apa aja diobrolin sampe masa depan juga. Ah, gak kerasa masa SMA udah mau berakhir aja. Bentar lagu kuliah dan kita bakal pisah. Sampai ketemu di puncak kesuksesan, kawan! ;) When we meet again, still showing your shine, guys :')
18 tahun, semoga bisa jadi berkah dan dilancarkan semuanya. UN, SNMPTN Undangan semuanya dilancarkan dan ditunjukkan kepada yang terbaik, amin ya Allah.
The last, thanks for my beloved fam and my besties {}
Rabu, 20 Februari 2013
Terasa sepi, nyatanya ramai. Orang-orang tertawa, berbicara, musik mengalun keras, suara derap sepatu kesana kemari memperlihatkan kesibukan masing-masing. Saya duduk di pojok sana, menutup telinga dengan headset, bersandar pada dinding, dan mengeraskan volume musik yang saya dengar. Pura-pura mendengarkan, nyatanya saya tak tahu musik apa yang sedang saya dengarkan.
Pikiran saya terbang jauh, pergi entah kemana, belum kembali sampai saat itu. Rasanya saat itu, saya tidak mau banyak orang di dekat saya. Saya tak mau mereka berbincang apa yang tidak ingin saya dengar. Saya hanya mau sepi. Sendiri.
Saya ini begitu kontradiktif. Ya, saya akui. Saya menyukai organisasi, berbaur dengan orang banyak menyatukan visi mencapai tujuan, beropini. Tapi, terkadang saya tak ingin banyak orang di dekat saya dengan keadaan saya sedang tidak nyaman. Bilang saja, saya itu moody. Ya, memang. Sesuatu hal yang belum bisa saya ubah sampai sekarang. Moody.
Terkadang pemikiran idealis tak bisa berbaur dengan pergaulan sehari-hari dengan teman. Sulit untuk menggabungkannya. Bergaul ya bergaul, ngobrol hal yang menyenangkan bukan beropini. Saat beropini pasti akan berdebat, bukankah memang begitu? tapi, tetap saja itu gak "klop" di hati saya.
Yah, pada akhirnya saya memang terkadang bisa menjadi sangat introvert, seperti sekarang ini.Saya tau harus berlari kemana kalau sudah seperti ini. Berlari ke kamar, menyumpal telingan dengan headset, mengeraskan volume musik, dan berbaring. Lalu semua akan terasa lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)

