Rabu, 20 Februari 2013

Sepi

Terasa sepi, nyatanya ramai. Orang-orang tertawa, berbicara, musik mengalun keras, suara derap sepatu kesana kemari memperlihatkan kesibukan masing-masing. Saya duduk di pojok sana, menutup telinga dengan headset, bersandar pada dinding, dan mengeraskan volume musik yang saya dengar. Pura-pura mendengarkan, nyatanya saya tak tahu musik apa yang sedang saya dengarkan.

Pikiran saya terbang jauh, pergi entah kemana, belum kembali sampai saat itu. Rasanya saat itu, saya tidak mau banyak orang di dekat saya. Saya tak mau mereka berbincang apa yang tidak ingin saya dengar. Saya hanya mau sepi. Sendiri.

Saya ini begitu kontradiktif. Ya, saya akui. Saya menyukai organisasi, berbaur dengan orang banyak menyatukan visi mencapai tujuan, beropini. Tapi, terkadang saya tak ingin banyak orang di dekat saya dengan keadaan saya sedang tidak nyaman. Bilang saja, saya itu moody. Ya, memang. Sesuatu hal yang belum bisa saya ubah sampai sekarang. Moody.

Terkadang pemikiran idealis tak bisa berbaur dengan pergaulan sehari-hari dengan teman. Sulit untuk menggabungkannya. Bergaul ya bergaul, ngobrol hal yang menyenangkan bukan beropini. Saat beropini pasti akan berdebat, bukankah memang begitu? tapi, tetap saja itu gak "klop" di hati saya.

Yah, pada akhirnya saya memang terkadang bisa menjadi sangat introvert, seperti sekarang ini.Saya tau harus berlari kemana kalau sudah seperti ini. Berlari ke kamar, menyumpal telingan dengan headset, mengeraskan volume musik, dan berbaring. Lalu semua akan terasa lebih baik.

Senin, 18 Februari 2013

Teman Hidup (Memoir)

Hey bloggeriest :)

Hampir 18 tahun gue terlahirkan di dunia ini. Alhamdulillah sekali masih diberi waktu menuju 18 tahun untuk terus bernafas, merasakan indahnya dunia, dan bertemu dengan orang-orang hebat di hidup gue ini. 18 tahun, angka yang sudah cukup di bilang dewasa. Eh gak juga deng, 18 tahun itu malah masa transisi. Transisi dari labil menjadi tidak labil, dari suka ngegalau jadi ngurangin galau, dan transisi yang lainnya ;D Udah bisa dibilang dewasa belum ya kalo gitu? hehe-,-

Hampir 18 tahun hidup gue ini, hampir 12 tahun juga gue habiskan dan lewati di masa-masa sekolah. Dari TK, SD, SMP, SMA, dan sebentar lagi kuliah. Yeaaaaaaay \m/ Welcoming me UI ;DD

Okey, bahas dari TK dulu. Memori untuk TK gak begitu inget, ya karena emang pas TK baru 6 tahun jadi wajar aja kalo lupa lupa inget. Namanya TKIT Ulil Albab, lokasinya di Perum Regensi. Masuk Tk tahun 2000. Gak banyak teman yang gue inget di TK ini. Cuma Lani, Agi, Husni. Udah-_- Belakangan gue tau kalo temen sekelas gue namaya Kartika dulu juga satu TK sama gue hihi dunia emang sempit(lagi). Untuk mengingat memori tentang TK, foto berikut bisa menyegarkan ingatan gue. Hayoooo, where am I? Find me :D



Berlanjut ke masa SD. 6 tahun gue sekolah di SDIT Nurul Fajri. Bagi gue, masa SD itu masa yang paling unik, lucu, dan asik juga. Masa-masa yang gak terlupakan. Di SDIT Nurul Fajri itu gue dan teman-teman adalah angkatan ke-2. Jumlah siswa satu angkatan cuma sekitar 44 orang.Tapi, bisa dibilang pembentukan karakter gue dimulai di SD ini, disamping didalam keluarga. Di NF, gaya pembelajarannya asik. Guru-gurunya juga asik, udah kayak temen, gak ada kesenjangan. Selain itu juga, acara-acara SD juga keren-keren dan variatif kayak Mabit, Persami, Pesantren Ramadhan, dsbnya. Asik-asik pokoknya. Suasana kekeluargaannya juga erat. Gak heran, sampai sekarang kita masih suka reuni. Walaupun, pas reuni pasti semuanya jadi beda, temen-temennya jadi beda sifatnya, penampilannya. Dan kalo inget, cerita-cerita masa SD yang masih cupu, itu lucu-lucu banget .Hem, coba review dulu kelas berapa aja di SD---> 1A, 2A, 3B, 4B, 5A, 6B. Yeay, masih inget :D

Di Nurul Fajri ini, gue pasti punya sahabat. Namanya Prima dan Nadia. Sampai sekarang kita masih bersahabat walaupun gak berdekatan lagi. Dulu, kita tuh namain kita bertiga, Tiga Serangkai.


Nama lengkapnya Azizah Prima Ghanie. Biasa dipanggil Prima. Lahir 13 Maret 1996. Beda 1 tahun kurang 3 hari sama gue. Hm, opini tentang Prima: Dulu, pas SD, diantara gue dan Nadia, Prima itu ibaratnya orang penengah dan mungkin selalu dalam posisi serba salah. Saat gue dan Nadia berantem, pasti prima yang bingung mau berpihak ke siapa hehehe. Dia juga mandiri, hampir 6 tahun di Bogor dan berjauhan dgn orangtuanya, dia bisa jaga diri dan baik-baik aja. Selain itu juga, orangnya baik, care, cheerful, rame, seru lah pokoknya. Prima juga punya potensi yang besar dalam seni ;) dan yang terpenting, she still be my bestiest until now and forever. Thankyoooouuuuu prim ;)

Namanya Nadia Kurnia Pangastuti. Biasa dipanggil Nadia atau Nana. Nah ini dia, temen berantem masa SD hahaha, kalo Nana matanya yang sinis kalo gue, mukanya yang jutek. Jadi kita punya ciri khas masing-masing kalo lagi marahan wkwkw, tapi itu dulu loh ya. Nana berpotensi besar di bidang Sains, tapi unpredictable, pasa SMA dia malah ambil jurusan IPS karena emang dia mau menjadi seorang Psikolog, amin. Good decision, na :) Nana orangnya baik, pendengar yang baik, care, pokoknya baik ;D Setelah berpisah dari SMP sampai SMA, semoga kita dipertumukan di kampus impian yang sama, UI. Welcoming us, UI...........! Thankyouuuuu naaaaaaa:)

Ini sepenggal cerita tentang masa SD. Cerita ini belum bisa mewakili seluruh kenangan masa SD yang sangat-sangat banyak dan lucu. Tapi, semoga postingan ini bisa mewakili rasa terimah kasih untuk Prima dan Nana :)

Tunggu kisah selanjutnya.........Masa SMP ;)

Sabtu, 09 Februari 2013

Hanya Doa

Nama saya Rizka. Umur saya menuju 18 tahun. Ah, saya baru sadar ternyata sudah mau 18 tahun saja. Rasa-rasanya baru kemarin saya berumur 16 tahun. Baru kemarin saya lulus SMP, baru kemarin saya ikut UN, baru kemarin saya ikut MOS SMA, baru kemarin saya sibuk sibuknya di OSIS. Dan sekarang saya sudah sibuk bimbel, review-riview soal UN, ataupun konsulatsi dengan guru-guru, mondar mandir ke BK karena harus mengurus dan berkonsultasi mengenai PTN, galau menentukan PTN dan prodi, ikut Try Out dan 65 hari lagi UN menanti, 109 hari lagi pengumuman SNMPTN 2013.

Di bumi ini, saya hanya lah sebuah noktah kecil. Coba berjalan lebih jauh, keluar dari hunian saya, saya mungkin akan tersesat. Semua yang saya sudah lakukan dan saya punya tak berarti apa-apa.

Alhamdulillah, saya baru saja melalui masa-masa tergalau yang pertama. Insya Allah sudah diberi keyakinan untuk menentukan prodi dan PTN. Saya selalu berharap semoga PTN dan prodi yang saya pilih ini akan membawa saya pada PTN dan prodi impian saya. Membawa saya kepada kampus impian saya sejak lama. Amin.

109 hari lagi menunggu. Bukankah sangat lama? Apa lagi yang harus saya lakukan untuk membuat saya lulus di SNMPTN Undangan 2013 ini? Belajar mati-matian? sudah bukan waktunya untuk SNMPTN Undangan, karena semua nilai sudah diinput dan akan diseleksi. Saya sudah cukup puas dengan hasil belajar saya selama hampir 3 tahun ini, dan inilah saatnya saya menanti kerja keras saya selama  hampir 3 tahun ini terbalaskan dengan hasil yang terbaik dan memuaskan.

Lantas apa yang harus saya lakukan untuk 109 hari lagi? Tetap belajar mati-matian? Iya, saya akan belajar untuk UN dan SBMPTN. Namun sekali lagi, belajar mati-matian untuk sekarang ini, tidak akan merubah nilai yang sudah saya input SNMPTN Undangan. 

109 hari lagi menanti kebahagiaan dan kepastian. Saya rasa hanya satu kuncinya untuk membuat saya bisa lulus SNMPTN 2013 dan menjadi mahasiswa di kampus impian. Kuncinya adalah hanya doa. Klise? Mungkin untuk sebagian orang itu klise, tapi saya tau kekuataan doa itu ada. Apa lagi yang bisa merubah nasib saya? Hanya saya sendiri yaitu dengan berdoa dan Allah akan mendengar doa saya. Memohon itu harus terlebih lagi dalam situasi seperti ini. Hanya doa yang menguatkan saya, meyakinkan saya, dan membuat saya tentram. Semoga terkabulkan.

109 hari lagi menanti ditengah derasnya doa. 

Sabtu, 12 Januari 2013

Malam Minggu Gue - Title 1 (Sms dari Ara)

Malam minggu ini, gue dapat sms dari salah satu teman. Namanya Ara. Kita sekelas dan gue duduk didepan dia. Kita suka ngobrol ataupun sharing dan beberapa hari belakangan ini, gue dan dia (mungkin) punya hobi baru yang sama. Hobi ini sebenarnya gak baik dan jangan diikuti. Stalking. Yap, beberapa hari ini kita udah jadi stalker-_-" Ssst, jangan bilang siapa-siapa.

13.48, Sms dari Ara
Ara : Riz, kak Odis udah punya pacar._.
Gue : Tau dari mana? 

Namanya kak Odis. Kesan pertama lihat, orangnya cool. Gak heran, kalo banyak yang kagum dan gue salah satunya wekeke. Selain kak Odis, ada juga yang lain. Namanya kak Acit. Dan ternyata kak Acit adalah teman les dulu pas gue kelas 2 SMA. Dunia emang sempit. Bisa ketemu lagi dgn waktu yang berbeda. Gue akan lulus dan dia udah jadi mahasiswa.

Kak Acit manggil pas gue lagi bareng Ara. Dan kita ngobrol tentang dunia perkuliahan, saling sharing. Eh, kak Odis juga ikut nimbrung. Ternyataaaaaaa, kak Odis kalo dilihat dari jauh dan dari jarak kurang dari 1 meter, beda bgt. Lebih cool, haaaaaa~

19.08, Balesan sms Ara
Ara : Punya no kak Odis nih Riiiiiiiiz
Gue : Tau dari siapa Ra kalo kak Odis udah pny pacar? 
Ara : Gue stalk di twitternya~
Gue : Gapapa deh Ra, masih ada kak Odis lain di UI wekeke xD
Ara : Riiiiiiz gue kok jd kagum ya sama kak Acit :$ dia aja ngomongnya aku-kamu sama temennya yang cewek di twitter. Haaaaa, kaguum!

Gue penasaran, kak Acit tuh kyk gimana orangnya nyampe-nyampe Ara bisa kagum gitu. Gue sign in Facebook dan Twitter. Gue search. Nemu twitternya kak Acit! Gue lihat-lihat. Dan di tab baru, gue search facebooknya kak Odis, nemu juga!

PP-nya kak Odis kocak bgt. Kalo digambarin kayak gini nih :








Gue ngakak. Terus, temennya kak Odis ada yang komen. Dis, PP lu kayak orang lagi nahan b*k*r tau wkwkwk. Sedangkan kak Acit, emang terlihat orang yang kalem dan islami kalo dilihat dari tweet-tweetnya. 

Terlepas dari PP-nya kak Odis yang kocak ataupun kak Acit yang kalem gitu. Malem minggu ini, gue khususnya dapet pelajaran dan juga quote yang bagus dari hasil stalking.

In reality, when we live in one place we just see normal condition. And when we go out we see more suprising things. Find out those suprising ones and take those ;)
Emang malem minggu yang lucu. Thanks buat kak Odis dan kak Acit yang udah menginspirasi. Thanks juga buat Ara atas smsnya hehe ;D

Kamis, 03 Januari 2013

Kenapa Menulis?

"Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia"

"Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin".
(Soe Hok Gie)

Liburan ini saya sempatkan menonton film GIE. Film yang udah tertunda beberapa kali untuk ditonton. Film ini sebenarnya udah lama, rilis tahun 2005Bersyukur sekali saya masih bisa nonton film ini di akhir tahun 2012. 

Film GIE banyak menginspirasi saya. Diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie sendiri, film ini menampilkan sosok mahasiswa yang idealis, penuh pemikiran, dan berani. Gie juga gemar menulis. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di koran-koran pada masa itu. Tulisan-tulisan mengenai kritik terhadap pemerintah, mahasiswa pada saat itu menjadi sebuah bentuk penyampaian pendapat dengan cara dia sendiri, tanpa harus demonstrasi besar-besaran seperti mahasasiswa kebanyakan.

"Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah".

Satu hal sederhana yang saya bisa ambil dari film GIE ini adalah : Menulislah, Tulislah apa yang ingin kau tulis dan lakukan perubahan!

Mungkin sederhana, hanya menulis. Ya, menulis. Tapi dari pemikiran yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan sedikit banyak akan memberikan impact pada diri sendiri dan yang membaca. Memberikan impact juga merupakan proses melakukan perubahan bukan?

Gak usah takut untuk menulis. Genre apa yang akan anda munculkan dalam tulisan anda, itu buah pemikiran anda. Gak perlu tulisan yang mengangkat tema "berat" kalau diri anda bukan disitu. Tulis apa yang menjadi kenyamanan anda, zona anda. 

Contohnya saja Raditya Dika. Tanpa mengangkat tulisan-tulisan yang "berat", dia mampu membuat orang senang memmbaca tulisannya bahkan beberapa tulisannya mampu memberikan filosofi yang baik. Sedikit membahas Raditya Dika, saya pernah membaca beberapa novel-novel karya dia seperti Cinta Brontosaurus (2006), Radikus Makan Kakus (2007), Marmut Merah Jambu (2009), dan Manusia Setengah Salmon (2011). Menurut saya, dari novel Cinta Brontosaurus sampai Manusia Setengah Salmon terlihat sekali revolusi gaya penulisan Raditya Dika. Dari yang awalnya tulisan dia kebanykan cuma buat lucu-lucuan dan sampai novel Manusia Setengah Salmon yang banyak banget kasih inspirasi dan juga makna. Itulah kenapa saya mulai menyukai karya-karya Radit.

Usia akan mempengaruhi kedewasaan. Kedewasaan akan memengaruhi pemikiran. Pemikiran akan membawa perubahan. Begitu yang saya lihat.

Saya mengapresiasi beberapa teman-teman yang sangat interested dalam menulis.Walaupun masih awam seperti saya ini dan masih dibilang pemula. Menulis melalui blogging juga namanya menulis.Setidaknya anda sudah berkontribusi dalam menuangkan ide anda kedalam bentuk tulisan. Setidaknya anda memperdayagunakan pemikiran anda, tentunya dengan zona kenyamanan menulis anda sendiri.

Sempat beberapa waktu saya malas sekali untuk menulis. Walaupun banyak hal yang saya pikirkan. Setelah menonton film GIE, passion saya untuk menulis kembali muncul. Ternyata menulis bukan sekedar menata kata-kata membentuk kalimat, tapi menulis itu berkontribusi. Ya, berkontribusi memperdayakan pemikiran anda dan bersyukur jika tulisan anda membawa impact. Itulah sebabnya kenapa saya menulis dan kenapa saya harus menulis. Dan itulah sebabnya kenapa anda menulis dan kenapa anda harus menulis.

Semoga saya diberikan selalu kesehatan untuk terus dapat menulis, begitu juga anda. 

Dari semua kata-kata Gie dalam filmnya, kalimat yang sangat saya suka adalah :
"Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya"

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda"

Minggu, 30 Desember 2012

Individualism Or Independent?


Definisi individualism :
  • Individualisme merupakafalsafah yang mempunyai pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggungjawab dan kebebasan sendiri.
  • Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Individualisme adalah gabungan dari 2 buah kata yaitu individual = pribadi dan isme = faham dalam arti besar merupakan satu paham yang menerangkan bahwa seseorang yang mementingkan haknya pribadi tanpa memperhatikan orang lain. (http://law-experience.blogspot.com/2011/11/makalah-hedonisme-konsumerisme-dan.html)
Sedangkan Definisi Independent :
  • sering disingkatkan menjadi indie, dapat berarti 'bebas', 'merdeka' atau 'berdiri sendiri (http://id.wikipedia.org/wiki/Independen)
  • Saya tambahkan. Independent adalah sebuah sikap yang bebas, merdeka, berdiri sendiri dan jauh dari campur tangan orang lain. Percaya apa yang dilakukan adalah hal yang memang seharusnya dilakukan.
Sebenarnya, postingan tentang ini udah lama banget pengen saya posting tapi passion untuk menulis saat itu minim sekali dan akhirnya saya menemukan passion itu sekarang #intermezzo

Pikiran mengenai Individualism atau Independent terpikirkan pada hari terakhir saya UAS semester 5 kelas 3 SMA. Dan itu menjadi UAS terakhir saya di bangku SMA. Saat itu jam istirahat, saya dan beberapa teman sedang belajar mata pelajaran Tikom. Bel masuk berbunyi. Dan teman disamping saya berkata : "Bagi-bagi jawaban ya Riz, nanti tanya-tanya oke". Kurang lebih seperti itu. Saya hanya menanggapi sambil tertawa.

"Saya tau kemampuan saya di bidang Tikom, menolong diri saya sendiri pun saya mungkin gak bisa apalagi harus menolong orang lain". Pikirku. Dan sebuah kalimat meluncur dari teman saya yang satu lagi, kalimat yang tak akan saya lupakan dan malah menginspirasi saya mem-posting tulisan ini. "Jangan pelit dong Riz! Bagi-bagi napa, udah hari terakhir UAS ini!".

Deg!

Kalimat itu tidak saya tanggapi lebih lanjut karena pengawas saat itu sudah datang. Apa benar saya pelit? Begitu kah pikiran mereka ternyata? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Berbagai pikiran terus mengganggu konsentrasi saya. Rasanya tidak enak dan mengganjal. Perasaan saya bertambah kacau saat saya membaca soal UAS Tikom itu. Surprisingly, mungkin hanya 5 % dari keseluruhan soal yang bisa saya jawab dengan benar! Saat itu saya dihadapi oleh 2 keputusan yang sangat dilematis. Bertanya kepada teman dan pasti hasilnya akan diatas 5% (setidaknya) atau tetap pada pendirian saya untuk do it by myself dgn 5% keberhasilan ataupun kalau diatas 5% itu namanya keberuntungan. 

Saya pun tetap pada pendirian saya. Still do it by myself, no matter how bad the result thats my own effort! Alhasil, keseluruhan soal saya kerjakan dengan insting dan feeling, walaupun ada esai yang saya tanya ke teman. Hanya berharap, semoga saya beruntung. Semoga beruntung. Fiuh~


Mungkin mereka berpikir betapa egoisnya saya atau betapa idealisnya saya? Bukan begitu?

Saya hanya berharap, apa yang saya lakukan adalah hal yang paling seharusnya saya lakukan. Saya memohon untuk UAS kali itu diberikan kelancaran. Tuhan mengabulkan. Saya memohon untuk UAS kali itu bisa mengerjakannya sendiri tanpa harus bertanya kepada teman. Tuhan mengabulkan. Saya memohon untuk UAS kali itu tidak ada yang bertanya jawaban kepada saya. Tuhan mengabulkan.

Itu permohonan saya. Anda tau bagaimana letihnya belajar dan menghafal materi untuk ulangan? dan saat itu, teman anda meminta jawaban kepada anda? bagaimana rasanya? Mungkin anda bisa buat pembelaan, "kan kalo teman nanya yaa timbal balik tanya lagi dong!"

Bisa aja dan sah-sah aja. Tapi, kalau saya hanya mau mengerjakan itu sendiri dan memercayai diri saya untuk mengerjakan soal itu bagaimana? walaupun kesempatan untuk saling bekerja sama itu besar sekali, tapi kalau saya masih mau memercayai diri saya bagaimana?

Itu gak bisa saya jelaskan kan? Jika saya jelaskan juga anda mungkin tak akan sepenuhnya memahami.

Do it by myself dan memercayai kemampuan diri sendiri bukan berarti individualis kan? Saya benci jika harus dikatakan individualis dalam konteks ini. Individualis terdengar negatif dan saya gak suka kata itu untuk konteks ini.

So, am I Individualism Or Independent?  Look the definition of them above! ;)


-Just do it by myself and believing in mymind and God

Melukiskan Cinta Sejati

"Jikalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku akan tetap memilihmu"

Sebuah kalimat yang sangat indah dari kutipan Film Habibie dan Ainun. Apa yang kamu pikirkan setelah menonton film tersebut?
Bahagia, terharu, iri, atau yang lainnya? Yang jelas, film Habibie Ainun memaparkan sebuah kisah cinta dua insan Tuhan yang bukan sekedar mencintai satu sama lain namun dua insan yang melebur menjadi satu dalam wujud cinta, perjuangan hidup, semangat, dan mimpi. Hal itu terwujud dalam kata-kata Habibie : “Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya”.

Sebuah kisah hidup yang sangat indah dengan kisah cinta sejati yang membuat semua orang yang menontonnya akan iri ingin merasakan kisah cinta seperti kisah cinta Habibie dan Ainun. Tidak hanya kisah cinta mereka, sikap saling menghargai dan menasihati diantara keduanya membuat kita juga bisa belajar bagaimana menghargai orang yang telah mendampingi kita selama ini bukan sekedar menjadi suami istri tetapi pendamping hidup, teman hidup.

Bagiku, menonton Film Habibie Ainun kembali memberikan motivasi bahwa semua sudah ditakdirkan dengan sebaik-baiknya untuk diri kita. Tanpa harus meminta lebih, Tuhan tahu apa yang semestinya kita dapatkan. Hanya, berusaha lah untuk mendapatkan apa yang semestinya kita dapatkan. 

Masalah cinta? Jangan takut. Sebaiknya kau kejar dulu mimpi-mimpimu itu karena Tuhan akan mengirim dia kepadamu pada waktu yang indah dan tepat.

Trust it ;D